Pages

Kamis, 10 April 2014

Little Busters! - episode 2 -

“m-maafkan aku!!”

Seorang gadis merunduk ketakutan, kedua tangannya memegangi atas kepalanya. Berbagai macam snack bertebaran di depannya.

“ada begitu banyak misteri di dunia ini, seperti snack, permen, dan camilan yang jatuh dari langit!”

Riki bengong menatap gadis itu. “anu...apa yang kau lakukan disini? Kau Kamikita-san, kan?”

Gadis itu membuka matanya dan melirik kearah Riki.

“...Naoe-kun? Bukan konselor sekolah yang meniru suara Naoe-kun?”


“sepertinya kita tidak punya guru dengan bakat seperti itu”

Gadis itu menghela napas dan tersenyum lega. “oh...” Dia lalu mulai merangkak keluar. “tunggu sebentar, ya....aku akan...”

Tapi sepertinya dia tersangkut didalam dan tak bisa keluar. Ia mengulurkan tangannya sambil menangis dan meminta Riki menariknya keluar.


Riki menggenggam sebelah tangan gadis itu dan berusaha menariknya keluar, tapi sepertinya dia benar-benar tersangkut. Riki menunduk sedikit dan melihat rok gadis itulah yang tersangkut, roknya tertarik sampai celana dalamnya keliatan sebagian. Celana dalam pink pucat dengan gambar hewan aneh di tengah-tengahnya.

“trenggiling? Atau Armadillo?” gumam Riki.


Gadis itu tampaknya menyadari Riki yang tiba-tiba berhenti menariknya. Ia mendongak. “ada apa?” tanyanya.

Riki tersentak dan segera memalingkan wajahnya. “anu...Kamikita-san...kurasa rok mu tersangkut sesuatu...”

Kamikita menoleh. Jeritannya membahana ke seluruh sekolah.

***

Kamikita menepuk-nepuk belakang roknya.

“kau tak apa-apa?” tanya Riki.

Ia mengangguk. “terima kasih, Naoe-kun. Anuu...”. Kamikita menoleh, menatap Riki. “Trenggiling?”

“oh, jadi itu memang trenggiling”

Kamikita langsung menangis melihat reaksi Riki. “uwaaa!! Jadi kau memang lihat ya?! A-a-apa yang harus kulakukan?! Sekarang aku tidak bisa punya istri!”

“kurasa kau memang tidak bisa punya istri dari sejak awal”

Gadis itu mengangguk. “kalau begitu aku akan mencari suami saja”

“......ya....selamat berjuang”

Ia menatap Riki selama beberapa saat, lalu mengacungkan jari telunjuknya kearah wajah Riki. “kau tidak melihat apa-apa. Okay?”

Gadis itu lalu menunjuk ke dirinya sendiri. “tidak ada siapapun yang melihat apapun! Semua masalah beres!!”

“a...aah...” jawab Riki. “yah, sudahlah”.

***

Kamikita mulai membuka camilannya dan memberikan sebuah donat pada Riki, dia bahkan membawa termos tehnya sendiri. Dia bercerita bahwa tempat ini adalah tempat favoritnya, dan dia belum pernah menceritakan tentang tempat ini pada siapapun (karena siswa dilarang ada diatas atap), karena itu, sekarang Riki adalah partner kejahatannya J.


Riki tersenyum sambil menatap Kamikita yang tampak bahagia memakan waffle-nya.

“kau suka makanan manis ya, Kamikita-san?”

Gadis itu mengangguk. “itu adalah kebahagiaanku. Makan makanan manis membuatku bahagia. Ini memang cuma hal sepele, tapi kenyataan bahwa hal seperti ini membuatku bahagia sungguh luar biasa. itulah kenapa makanan manis itu luar biasa!”

“begitu ya” Riki menggigit donatnya lagi, sambil mendongak menatap langit biru.

“kalau Naoe-kun bahagia, maka aku juga bahagia. Ketika kau membuat seseorang bahagia, kau membuat dirimu sendiri jadi sedikit bahagia juga. Jika kau bahagia, aku juga bahagia. Jika aku bahagia, kau juga bahagia. Dan hal itu terus menerus berulang, terciptalah spiral kebahagiaan!”


Riki tersenyum mendengar teori spiral kebahagiaan Kamikita. Jika seseorang benar-benar percaya pada teori seperti itu, sudah pasti dia bahagia. Riki akhirnya mengutarakan maksudnya untuk mengajak Kamikita bermain baseball, walaupun sedetik berikutnya ia tampak menyesalinya (karena tampaknya Kamikita dan baseball sama sekali tidak cocok).

***

“UOOOOOHHHHHHH!!”

Masato berteriak bahagia dikantin, bermangkuk-mangkuk nasi dan lauk terhampar di hadapannya.

“aku kelaparan!!”. Ia mengambil semangkuk nasi miliknya, lalu mengambil mangkuk nasi milik Rin yang duduk disebelahnya dan menuang isinya kedalam mangkuk miliknya. Rin yang sedang asik menyeruput supnya kaget. “hei! itu punyaku!”


“pelit”

“pelit?! Apa maksudmu pelit?!”

“ya sudah, ya sudah. Aku akan memberikanmu semangkuk punyaku. Tenanglah”

Sementara mereka bertengkar, Kyosuke datang sambil memegang manga di tangannya. “yo! Kenapa sudah ribut-ribut begini pagi-pagi?”

“ini salah si idiot ini!” jawab Rin.

“hei, jangan panggil aku idiot! Panggil aku si otot!”

Kyosuke, yang sama sekali tidak memperdulikan pertengkaran adiknya dan Masato, menaruh salah satu kakinya diatas kursi sambil bergaya keren. “dengar, kawan-kawan. Ayo kita bikin band. Kita akan namai band kita.....Little busters!!”


“band?” tanya Riki.

“tunggu, Kyosuke” potong Masato. “bukannya kita mau main baseball?”

“oh, benar juga. Baseball ya. Aku jadi terpengaruh setelah membaca manga tentang band”

Rin menyipitkan mata sambil memandang kakaknya. “jadi sebenarnya kau tidak perduli kita mau ngelakuin apa aja?”

“jadi membentuk tim baseball juga cuma ide yang ‘kebetulan’ kepikiran?” timpal Kengo.

Kyosuke duduk di tempatnya yang biasa. “maaf. Kita perlu lima anggota lagi, kan? Ayo kita temukan mereka dan dedikasikan masa muda kita untuk baseball!”

“apa yang mau kulakukan bukan olahraga yang membosankan seperti baseball!” Masato menelan makanannya. “tapi yang seperti pertarungan penuh hasrat dan semangat!”

Tiba-tiba sebuah serangga seperti semut bersayap terbang didekat Rin . Rin menjerit kecil dan berusaha mengusirnya. Kengo dengan santai membalik ujung kedua sumpitnya, dan menyuruh Rin untuk mundur sedikit. Dengan konsetrasi dan kecepatan yang luar biasa, Kengo berhasil menangkap serangga itu dengan sumpitnya. Seisi kantin berseru kagum.


Masato yang tak mau kalah, meminta Kengo untuk melepas serangga yang masih hidup itu. Kengo tersenyum sinis, dan menuruti permintaan Masato.

Serangga itu terbang zigzag di depan wajah Masato. Masato berteriak dan memukul serangga itu sekuat tenaga. Serangga itu jatuh dan....

PLUK


Mendarat tepat didalam mangkuk sup Kengo.

Semua orang terdiam sesaat sambil memandang bangkai serangga yang mengambang diatas permukaan sup. 


Lalu tiba-tiba Masato berteriak. “KAU INI NGAJAK BERANTEM YA?!”

“kenapa Masato yang marah duluan?!” seru Riki kaget.

“KAU YANG MINTA!!” kengo beranjak dari tempat duduknya.

Masato berteriak meminta senjata kepada siswa-siswi yang ada didalam kantin. Seperti sebelumnya, mereka mulai melemparkan berbagai barang random kepada Masato dan Kengo.

Kengo mendapat raket tenis meja!

Masato mendapatkan....sabun mandi!! (wkwkwkw)

“Sabun mandi?!!” teriak Masato.


Kyosuke, yang lagi-lagi bertindak sebagai wasit, memberi aba-aba tanda pertandingan dimulai. Masato dengan cepat menggosok-gosok sabunnya, membuat seluruh tubuhnya tertutup oleh busa. Kengo tanpa basa-basi langsung memukul Masato tepat diwajah, membuatnya terpental dan K.O. para penonton hanya bisa menatap Masato yang tidak sadarkan diri tapi mengkilap sampai kinclong.

Kengo mengarahkan raket tenis mejanya kearah Masato. “Inohara Masato! Dengan ini aku berikan padamu gelar : ‘laki-laki yang kehilangan otaknya di suatu tempat’!”


***

Riki sedang berpikir bagaimana cara menemukan anggota baru sambil memandang keluar jendela, ketika ia tiba-tiba mendengar beberapa orang gadis di kelasnya berbicara soal Rin. Mereka berkata bahwa kerjaan Rin hanya bermain dengan kucing saja, dia bahkan melalaikan tugas piketnya. Hanya karena Rin cukup populer dikalangan laki-laki, dia jadi sombong dan sebagainya. Riki hanya tersenyum simpul lalu beranjak berdiri dan berjalan keluar kelas.


Riki menemukan Rin sedang bermain dengan kucing-kucingnya di salah satu sudut halaman sekolah.

“sudah kuduga kau ada disini, Rin”

“oh, Riki?”

“kau tidak boleh bermain saat kau sedang ada tugas piket”

Rin tidak menjawab. Dia mengalihkan wajahnya dan kembali bermain dengan kucing-kucingnya.

“tidak ada yang akan menyukaimu jika kau tidak melakukan tanggung jawabmu dengan benar. Kau tidak bisa akrab dengan gadis-gadis didalam kelas, kan?”

“itu tidak benar”

“jadi kau berteman dengan salah satu dari mereka?”

“g-gadis yang duduk dibelakangku...”

“siapa namanya?”

“eh.....”

“kau tidak tahu? Tapi kalian berteman?”
“berisik! Diam!! Apa jeleknya kalau tidak punya teman? Aku kan gak bikin masalah buat kamu! Memangnya kau akan mati kalau aku tidak punya teman?!”

“aku ini mengkhawatirkanmu. Aku tahu kita ini tumbuh besar bersama dan kita masih bisa bersama-sama sekarang, tapi ketika kita lulus nanti.....”

“urus urusanmu sendiri”

“eh?!”

Rin mengambil seekor kucing putih dan menunjukkannya ke Riki. “.....begitu kata Lennon”

“....oh...gitu....”

Rin melihat sebuah kertas yang tergulung di lengan Lennon. “apa ini?”


“apa?” tanya Riki.

“ada pesan disini” Rin melepasnya dari lengan Lennon dan membacanya. Riki menghampirinya dan membungkuk sedikit agar bisa ikut membaca. “surat?”

‘ada sebuah rahasia di dunia ini. Jika kau ingin mengetahuinya, maka selesaikanlah semua tugas yang kuberikan’


Kilasan-kilasan memori lewat didalam benak Riki. Gambaran-gambaran peristiwa yang belum dia pernah lihat sebelumnya, berkelebat didalam ingatannya.

“sebuah rahasia di dunia ini? apa maksudnya?” tanya Rin bingung. Lennon mengeong, ekornya berayun kiri dan kanan. Ternyata di ekornya ada sebuah kertas lagi. Rin mengambilnya dan membacanya. “tugas pertamamu : bereskan masalah sanitasi di gudang asrama pria”


“siapa yang menulis surat ini?” tanya Riki.

“bukan kucing?”

“kucing kan gak bisa nulis. Kita bisa mengikuti Lennon dan menemukan siapa yang menulis pesan-pesan ini”

“tapi, itu curang namanya”

“tunggu, Rin, kau akan melakukan tugas ini?”

“aku hanya perlu melakukan semua tugas-tugasnya kan?”

“ini kan cuma kejahilan seseorang saja. Mungkin aja seseorang sedang menjahilimu”

“akan kita temukan”

“pelakunya?”

“apa yang sebenarnya ingin mereka beritahukan pada kita”

Riki berhenti berkomentar ketika melihat kilatan di mata Rin. Dia tampak bersemangat, seperti kucing yang mengejar sebuah mainan, berusaha menangkapnya.

***

Tapi...apa sebenarnya rahasia dunia ini? yang ada disini hanyalah kehidupan setiap hari yang tak pernah berubah. Tapi....jika Riki harus menyebutkan satu hal yang membuatnya gelisah, itu adalah....narcolepsy. gangguan tidur yang dia miliki semenjak kecil. Riki tak pernah bisa tahu kapan dan dimana dia akan jatuh tidur secara mendadak.

Riki menyipitkan matanya sambil memandang jam dikamarnya yang menunjukkan pukul 4 lewat 7 sore, tanggal 15 mei.

“ngomong-ngomong, Riki”

Suara Kyosuke menyadarkannya dari lamunannya. “aku berpikir untuk menjadikanmu pemukul keempat”

“aku? Pemukul keempat?”

Kyosuke berhenti mengelap pemukul baseballnya dan mengarahkannya ke wajah Riki. “punya pemain yang kelihatannya lemah tumbuh menjadi pemain terkuat adalah plot yang sangat penting!”

Serius deh...plot apa? Pikir Riki.

Masato yang sedang berlatih tinju dengan sarung tangan baseball akhirnya angkat bicara. “kita hanya punya empat anggota. Kita masih belum bisa punya pemukul keempat. Ngomong-ngomong, lebih baik kau cepat dapatkan ini yang banyak!” masato berpose dan menunjukkan ototnya. “otot-otot ini! lihat? Lihat?”

Tiba-tiba pintu terbuka keras, dan menghantam Masato yang memang sedang berdiri tepat didepan pintu. Rin masuk sambil membawa banyak peralatan kebersihan di kedua tangannya. “kalian! Berhenti mengobrol! Kita akan membereskan masalah sanitasi asrama pria!


Mereka semua berdiri sambil memandangi situasi gudang asrama pria yang luar binasa kotornya.

“mungkin kali terakhir mereka membersihkan tempat ini ketika sebelum restorasi Meiji” komentar Kyosuke.

Riki bertanya pada Rin apa dia benar-benar ingin melakukan ini? sementara Kyosuke sudah masuk kedalam, mengecek beberapa kardus sambil mengangguk angguk.

“jadi kenapa aku harus membantu membersihkan tempat ini?” tanya Masato. “kau tahu, aku punya alergi yang membuatku jadi ingin berteriak dan menari ‘otot, oh yeah!’ kapanpun aku mencoba untuk bersih-bersih” Masato mulai mempraktekkan ‘alergi’nya.


Kyosuke menemukan kardus-kardus berisi manga dan mulai membongkarnya, adiknya menghampiri dan berusaha mencegahnya. Riki hanya bisa tersenyum melihat kelakuan teman-temannya.

“hei!!”

Seseorang berteriak dibelakang Riki. Ternyata Kamikita. “ketemu!”

“oh? Kamikita-san? Ada apa?”

“kau tahuuuuu....aku memutuskan untuk bergabung!”. Kamikita menunjukkan kedua tangannya yang memakai sarung tangan bergambar kucing. “baseball di rerumputan. Aku akan sangat senang kalau bisa membantumu, Naoe-kun!”

“tunggu, itu maksudnya kau mau bergabung dengan Little Busters?!”

Mata Kamikita tiba-tiba bercahaya ketika dia bertemu pandang dengan Rin, sementara Rin tampak panik dan berusaha melarikan diri. Tapi Kamikita dengan cepat berlari kehadapan Rin dan menggenggam kedua tangannya. “Natsume-san, kau anggota juga? Uwaaahh...aku senang sekali!”

“hei, tunggu....”

“ayo kita lakukan sebaik mungkin untuk baseball ini! okay?”

Rin hanya bisa tergagap sendiri.

“maaf, Rin benar-benar pemalu” ucap Riki menerangkan.

“benarkah?” Kamikita menatap wajah Rin lebih dekat, membuat gadis itu tambah panik dan mundur kebelakang. Ia menubruk tumpukan kardus, membuat sebuah kardus yang ada diatas rak jatuh kebawah. Rin dengan sigap segera menangkapnya, tapi sialnya bagian bawah kardus terbuka, seluruh buku yang ada didalamnya terjatuh.


Kamikita terbatuk, seluruh tubuhnya kotor kena debu dan sebuah buku menempel di kepalanya. Riki menyuruh Rin yang tampak kaku sambil masih memegang kardus diatas kepalanya untuk minta maaf kepada Kamikita.

“aku tak apa, tak apa...”Kamikita memegang kepalanya. Buku dikepalanya terjatuh. Ketika dia hendak menarik tangannya, sebuah jaring laba-laba ikut tertarik, bersama seekor laba-laba kecil. gadis itu menjerit histeris. Sementara itu, tidak ada seorang pun yang memperhatikan Kyosuke yang terbaring pingsan dilantai, buku-buku berserakan disekitarnya.



“jadi...Kamikita, iya kan?” Kyosuke membersikan debu di pundaknya, sementara Riki membantu melepas jaring laba-laba dari rambut Kamikita. “kenapa kau pakai sarung tangan?”

“bukannya kau perlu ini untuk main baseball? Aku paling tidak tahu itu!”

“maaf, tapi bukan sarung tangan seperti itu yang kau pakai didalam baseball”

“persis!” timpal Masato dengan tampang serius. “ini baru yang asli!!” Masato mengeluarkan dua boneka tangan.

“bukan, bukan yang itu juga” komentar Riki.

Kamikita sama sekali tidak memperdulikan lawakan Masato. “tapi aku ingin melakukan sesuatu sebelum menjadi anggota.”

Kamikita mulai membantu bersih-bersih, sementara Rin masih bersembunyi dibelakang punggung Riki. “kau akan menyelesaikan tugasnya kan?” tanya Riki. Rin hanya bisa menyipitkan matanya sambil cemberut.

Mereka mulai bersih-bersih, walaupun ditengah jalan Kyosuke malah sibuk membaca manga, dan Masato mulai menari tarian ototnya. Rok rin robek tiba-tiba ketika menaiki tangga. Kamikita yang cekatan dengan cepat memperbaikinya dengan set alat jahit miliknya.



Gudang akhirnya menjadi bersih total.

“aku benar-benar melakukan pekerjaan bagus!” puji Masato pada dirinya sendiri.

“kau apa?!” seru Rin kaget.

“Rin, kau harus berterima kasih” kata Riki lembut. “kita bisa menyelesaikan tugasmu karena Kamikita-san disini”

Kamikita tersenyum pada Rin, membuat gadis itu memalingkan mukanya sambil gemetaran karena malu.

“sekarang karena ruangan klub baseball sudah bersih dan bagus, ayo kita main baseball!”

“eh? Ini bukan ruangan tim baseball” jawab Riki.

“eh? Bukan?”

***

Kamikita mulai melakukan pemanasan di lapangan, sementara para lelaki anggota baseball memandanginya dari tepi lapangan.

“apa dia baik-baik saja?” tanya Masato.

“ini buruk” ucap Kyosuke serius. “seberapa buruk, kau tanya? Sangat buruk sampai aku tidak bisa meluruskan kerut di alisku ini”


“yah...setidaknya dia punya semangat” jawab Riki.

“yang kulihat cuma kekurangan besar untuk tim” timpal Masato lagi.

“Ayo kita beri dia tes keanggotaan” usul Kyosuke.

“begitu...jika kita bilang dia gagal, kita bisa menolak dia dengan sopan, semuanya bisa berakhir baik”

Tes keanggotaan pun dimulai...

Kyosuke melipat kedua lengannya, wajahnya tampak serius. “pertanyaan pertama! Apa yang diperlukan untuk baseball?”


“ketekunan! Keberanian! Dan persahabatan!” Kamikita menjawab dengan penuh semangat.

“kau lulus!!” seru Kyosuke dengan penuh semangat juga.


“TUNGGU SEBENTAR!!” potong Masato. Kyosuke segera tersadar. “maafkan aku. Kata-katamu begitu tulus sehingga mereka berdentang di relung hatiku yang paling dalam”

“bukannya biasanya tesnya tentang kemampuan fisik?” tanya Riki.

“r-reflek....” ucap Rin malu-malu.

“dan jangan lupa kekuatan otot!” timpal Masato.

“kurasa itu benar” Kyosuke menatap Kamikita. “kalau begitu, mari kita mulai dengan...”

Tes pertama adalah tes memukul. Kamikita bahkan tidak sanggup mengangkat pemukulnya. Masato yang hendak membantunya malah kena pukul di betis. Kyosuke segera mengganti pemukulnya dengan pemukul plastik. Kali ini dia bisa mengangkatnya, tapi sayangnya Kamikita salah menghadap. Bukannya ke pitcher malah dia berdiri menghadap catcher.


Tes kedua adalah tes berlari, dan dia selalu terjatuh.

Tes ketiga tes menangkap bola. Bukannya menangkap bola, ia malah sibuk mengagumi bunga dandelion yang tumbuh dilapangan.

“baiklah, ini adalah pertanyaan terakhir. Aku akan bertanya padamu sekali lagi. apa yang kau perlukan untuk baseball?”

“itu....adalah...” Kamikita tampak ragu sesaat. “ketekunan! Keberanian! Dan persahabatan!”

“kau lulus!! Tidak diragukan lagi, kau lulus! Kamikita Komari, kau punya segalanya yang dibutuhkan untuk bermain baseball!!”

Sementara itu, Riki, Rin dan Masato, hanya bisa bengong sementara Kyosuke dengan semangat meresmikan Kamikita sebagai anggota baru mereka.


“sebenarnya tes itu untuk apa?” gumam Riki.

Rin tampak kaget ketika Kamikita menghampirinya dengan riang. “aku harap kita bisa menjadi teman baik! panggil aku Komari-chan jika kau mau!”  

Rin segera bersembunyi dibelakang punggung Riki.

“oh, masih malu?” tanya Kamikita.

“yah...” Riki tersenyum. “ayo, Rin!”. Rin sedikit menjulurkan kepalanya keluar.

“ayo berteman, Rin-chan!”


Rin kaget, dan menyembunyikan kepalanya lagi. “r-r-rin-chan....aku tidak terbiasa dengan iniii!!!” jeritnya, lalu ia berlari menjauh.

“yah, dia lari.....” gumam Komari.

“dia hanya tidak terbiasa. Dia tidak tahu bagaimana cara berinteraksi denganmu” hibur Riki.

“dia tidak pernah dipanggil Rin-chan sebelumnya” terang Kyosuke.

“oh” Masato mengangguk. “tunggu, apa itu artinya aku ini Kinniku-chan (otot-chan)?” Masato berbalik dan berteriak kearah Rin. “panggil aku kinniku-chan, oke?”

BUGH!


Sepatu Rin melayang dan tepat mengenai wajah Masato. “MENJIJIKKAN!!” seru gadis itu dari kejauhan. Masato melepas sepatu yang menempel diwajahnya. “padahal kupikir itu kedengarannya bagus”

“kau tidak apa-apa?”

“huh? Memangnya kenapa?”

“Masato memang selalu seperti ini” ucap Riki menjelaskan.

Komari memandang Rin yang melompat-lompat kecil dengan sebelah kakinya.

“ini” Masato menyerahkan sepatu Rin yang tadi dilemparkan padanya kepada Komari. Komari tersenyum dan mulai berlari menghampiri Rin sambil memanggilnya, tetapi di tengah jalan dia malah tersandung dan jatuh.

Rin yang tadinya sudah hendak kabur lagi, melihat Kamikita yang jatuh di tanah sambil meraung kesakitan, akhirnya melompat menghampiri Komari.

“anu....apa kau tidak apa-apa?”

Rin berjongkok disebelah Komari. “terima kasih sudah memperbaiki rokku....”

Komari tiba-tiba bangun dan mulai menggelitiki Rin. 


Masato tertawa melihatnya, bahkan Kyosuke pun ikut tersenyum. Riki memandang kedua gadis itu dari kejauhan. Keinginan yang sama kembali terlintas di benaknya lagi. seandainya saja hari-hari seperti ini bisa berlangsung selama-lamanya...

Riki mulai menyipitkan matanya, dia teringat pada surat yang dibawa Lennon, tentang ‘rahasia’ dunia ini.

Rin tiba-tiba berhenti tertawa, wajahnya tampak serius memandang kearah Riki. Masato dan Kyosuke tampak terkejut. Kaki Riki mulai goyah, dan dia jatuh tertidur.

Narkolepsi.....seketika memutuskan dia dari dunia nyata, membuatnya jatuh 

Kamis, 20 Maret 2014

Game dan Visual Novel Terbaik yang Bisa Dimainkan di Laptop


True remembrance
Menceritakan tentang masa depan dimana banyak orang menderita pandemic depression (stress n galau tingkat tinggi), para penderitanya disebut The Dolor. Di suatu kota, tinggal seorang ‘dokter spesialis’ yang bekerja menyembuhkan para Dolor itu, mereka dikenal dengan istilah ‘Mnemonicides. Tokoh utama dari game ini, seorang Mnemonicides muda berbakat bernama Blackiris, diberikan tugas untuk menyembuhkan seorang gadis bernama La.

Pure visual novel. Gak da pilihan, endingnya hanya ada satu. Tinggal klik, klik, klik teruuusssssss....sampai endingnya. Tapi ceritanya sangat bagus dan konsepnya unik. Mulai dari pandemic depression yang entah bagaimana bisa menyebar luas dan bahkan bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian, sampai cara unik para mnemonicides untuk menghilangkan ‘penyakit’ pasiennya.  Ada lucunya sedikit, lebih banyak sedihnya...tapi yang paling menonjol adalah jalan ceritanya yang gak terduga dan memaksa kita untuk memutar otak biar engeh, sebenernya apa sih yang terjadi? Visual novel pertama yang saya mainkan, dan sampai sekarang masih membekas di hati dan benak saya (lebay daahh!). oh, dan yang paling wokenya, game ini gratis, tis tis!!


 Jurus andalan Blackiris : tatapan sadis menyayat hati


To the moon
to the moon adalah game indie RPG, tentang dua dokter yang menjelajah masuk kedalam memori seorang lelaki tua, untuk memenuhi keinginan terakhirnya.

Pernahkah kamu merasa melupakan sesuatu yang penting tapi kamu tak tahu apa itu? Pernahkah kamu berkeinginan untuk menyatakan pikiran dan perasaanmu pada seseorang tapi kamu tak tahu bagaimana caranya? Sepasang pria dan wanita, hidup bersama dengan memendam pikiran-pikiran itu, hingga akhir hayat mereka. Sampai datanglah dua orang dokter, si lelaki konyol dan si perempuan serius, memenuhi panggilan mereka untuk ‘mengabulkan’ keinginan terakhir sang pria tua yang terbaring lemah di tempat tidur, yaitu untuk pergi ke bulan, satu-satunya hal yang dia ingat dari memori terpendamnya. Ugh...my feeling...my damn feeling!! Kenapa si creator game ini harus bikin game sesedih ini, kenapaaa?? T_T



G-Senjou no Maou
Bayangkan kalau death note digabung dengan detektif conan dan ditambah dengan ending sedih romantis seperti Clannad? Taraaa....jadilah G-Senjou no Maou.

Di game ini kamu berperan sebagai Azai Kyosuke, anak dari bos mafia paling terkenal. Saat siang dia bersekolah seperti biasa, dan saat malam dia bekerja sebagai kaki tangan ayahnya (tidak ada yang tahu pekerjaan Kyosuke yang sebenarnya). Kehidupannya yang ‘damai dan normal’ terusik saat seorang gadis aneh pindah ke kelasnya, Usami Haru. Hal yang paling dibenci Kyosuke dari Usami (selain instingnya yang tajam, kemampuan analisis setingkat detektif profesional, dan gurauannya yang gak lucu soal hubungan dia dengan Kyosuke) adalah rambut panjang gak beraturannya yang mirip kuntilanak. Bahkan Usami sempat protes karena setiap mereka bertemu, Kyosuke selalu menyuruhnya untuk potong rambut.

Pada bagian awal, kita bisa melihat unsur humor dan kehidupan ‘normal’ Kyosuke dan teman-temannya di sekolah. Tapi lama kelamaan semua berubah saat negara api menyerang, eh, bukan...saat orang misterius yang mengaku bernama ‘Maou’ muncul, orang yang sama yang sudah dikejar Usami selama ini. Game ini mengajak kita beranalisis layaknya detektif, selama mengikuti kejar-kejaran antara Usami sang pahlawan, dan Maou sang iblis. Dan endingnya? Luar binasaaaaa...bikin saya nangis! (for your note, ending yang saya bicarakan adalah ending Usami, dengan kata lain cerita utamanya. Saya gak main route lain, karena yang lain gak se-epic cerita utamanya). Oh, dan game ini termasuk eroge (+18), tapi ada patch yang bisa menghilangkan unsur erogenya.



Little Busters!
What 'adolescence' do you have? Do you remember childhood?
Visual novel tentang persahabatan, dan romance. Ceritanya kurang lebih sama seperti animenya. Yang ini dah gak usah dijelasin lagi, pokoknya the best! Abis mainin game ini lu pasti bakalan teringet sama sahabat-sahabat lu. yah..itu juga kalo punya temen ya, hihihihi.... :p

Ib

Cukup dulu dengan game-game sedih menyayat perasaan. Sekarang lanjut ke horror. Ib bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Ib, yang datang ke galeri seni bersama orang tuanya. Tiba-tiba semua orang didalam galeri menghilang, dan Ib terdampar di tempat aneh, dimana semua benda-benda galeri menjadi hidup dan menyeramkan. Sang gadis kecil ini berusaha kembali ke dunia nyata bersama kedua teman barunya, si pemuda ehm- lentik – ehm, bernama Gary, dan seorang gadis cilik misterius seusianya yang bernama Mary.

Ib memiliki lebih dari satu ending, dan kebanyakan adalah bad ending. Saya saranin lihat semua bad endingnya dulu sebelum ke true ending.
warning : video di bawah ini mengandung spoiler!



Mermaid swamp
Ada sebuah legenda tentang putri duyung....suatu hari, seorang nelayan bertemu dengan seorang putri duyung dan membawanya pulang ke rumah. Ia menaruh si putri duyung didalam akuarium raksasa, dan menaruh air rawa kedalamnya. Si putri duyung yang awalnya cantik jelita, dengan mata bening, senyum cemerlang dan kulit putih mulus bagai mutiara mulai berubah karena air rawa itu. Mata beningnya berubah menjadi sayu dan tak bercahaya, senyumnya berubah menjadi ringis kesakitan, dan kulit mulusnya menjadi menebal dan membengkak, semua kecantikannya surut perlahan dan diapun tewas dalam keadaan mengenaskan. Menurut kabar, hantu si putri duyung bergentayangan dan membalas dendam dengan cara membunuh para gadis muda, mereka meninggal dengan kondisi yang sama seperti dirinya....


Pernah nonton film horror? Apa yang biasanya dilakukan tokoh utama wanitanya kalau ketemu hantu, atau diserang temannya yang kerasukan? Nangis, lari, atau malah pingsan? Tidak begitu dengan tokoh utama game ini. Dikejar teman kerasukan? Waktunya kungfu kick! Satu-satunya game horror yang bisa bikin saya ketawa ngeliat kelakuan tokoh utamanya. Game ini penuh dengan puzzle dan teka-teki, tapi gak gitu sulit kok.
kawaaaiii moment yang bisa berubah jadi pertunjukan kungfu beberapa detik kemudian.

Masih ada game lain dan visual novel yang saya mainkan, tapi yang jalan ceritanya bagus dan menyentuh hati saya, ya cuma yang saya sebutkan diatas. sebenarnya ada satu lagi yang bagus, Quintessence : The Blighted Venom. Tapi sayangnya game ini belum rampung dibuat >.<. Ada yang tahu game bagus atau visual novel yang bisa dimainin di laptop lainnya? fell free to tell me!
Saya tahu ini emang bukan anime, tapi menurut saya story dari game-game diatas ini sangat berkesan bagi saya sampai saya gatel pengen rekomendasiin ke orang lain!

Kamis, 30 Januari 2014

Fate / Stay Night - Episode 12 -

“bagaimana Taiga?”

Saber berdiri di belakang Shirou yang baru saja selesai menelepon.


“mereka bilang dia sudah sangat baik. Aku ingin menjenguknya, tapi sebelum itu ada hal yang harus kuselesaikan.”

“hari ini kita tidak punya alasan untuk menangkap masternya Rider”

“Saber...” Raung Shirou kesal.

“jika kita ingin bertarung,  kita harus menunggu lukamu pulih dulu”

“kau salah, Saber. Jika kau mempermasalahkan itu, tubuhku pilihan kedua. Aku tidak akan menunggu dia dan Rider sebelum mereka membuat medan gaya lain”

“kau hanya tidak ingin jatuh korban lebih banyak daripada kemarin? Tujuanmu bukan ingin mengalahkan masternya Rider. Kau semata-mata bertarung untuk hal itu?”

“tidak, aku yang akan mengatasi Shinji. Mengalahkan Rider adalah tugasmu”. Shirou tersenyum. “selain itu, hal ini sangat logis untuk mencegah lebih banyak korban. Sudah dari awal itu alasanku bertarung”

“begitu...” Saber berjalan melewati Shirou. “jika itu yang dikatakan Masterku, aku harus mengikutinya.”

“Saber!” raung Shirou lagi.

***

“dan?”

Tohsaka dengan santai menyeruput teh hijau hangatnya. “ketika kau bilang kau mencari Shinji, kau punya peluang untuk menang kan, Shirou?”

“peluang untuk menang....maksudmu mengalahkan Shinji?”

“jika kau mengajakku untuk menyerang Master lain tanpa peluang untuk menang, maka aku akan mentertawakanmu”

Shirou tidak bisa menjawab, malah menggaruk pipinya yang tak gatal.

“ha-ha-ha-ha-ha-ha” Tohsaka menyipitkan matanya dan tertawa dengan suara datar.


“jika hanya melawan Rider, itu tidak masalah” timpal Saber yang sedari tadi hanya menunduk memandang meja. “bahkan Shirou pun tahu, dia sudah pernah bertarung”

“oh, benarkah?”

Shirou menyilangkan kakinya dan duduk di sebelah Saber. “Rider tidak sekuat Saber. Jika duel satu lawan satu, aku yakin dia tak akan kalah”

“apa? Jadi kau tahu kau punya peluang untuk menang” Tohsaka mengambil sekeping biskuit dari atas meja dan menggigitnya. Shirou dan Saber saling berpandangan, tampak cemas.


Tohsaka yang menyadari perubahan ekspresi mereka berdua langsung bertanya. “kenapa kalian berdua jadi terlihat kacau sekarang? Apa ada masalah lain?”

“yah...dengar Tohsaka” kata Shirou dengan ekspresi serius. “bahkan ketika dalam keadaan terdesak oleh Saber yang jauh lebih kuat darinya, Rider mampu lolos dengan Shinji.”

“eh?”

“kurasa itu Noble Phantasm-nya Rider”

Tohsaka mengalihkan pandangannya, sebelah tangannya menopang dagu. “Jadi tipe Noble Phantasm-nya Rider unggul untuk kemampuannya sendiri”

“aku tidak bisa mengkonfirmasi. Tapi secara kategori, itu sama seperti sihir yang kau gunakan, Rin” ucap Saber menjelaskan”

Tohsaka memakan sisa biskuitnya. “ini aneh, lalu...pertama, sihir modern bahkan tidak bisa melukaimu”

“ya, sihir yang ditiadakan oleh sihir yang kuat. Untuk menembus armor, maka diperlukan kemampuan, atau makhluk dari alam lain”

“pengguna sihir....apakah maksudmu Rider adalah seorang penyihir, Saber?”

“tidak, aku tidak merasakan banyak mana darinya. Noble Phantasmnya tidak ada hubungannya dengan Rider. Ini mungkin bukan Noble Phantasm anti personil seperti pedang atau tombak”

“noble phantasm anti personil?” tanya Shirou bingung.

“pada akhirnya, pedangku adalah senjata yang digunakan untuk ‘mengalahkan orang’. Tidak perduli seberapa kuat mana atau kutukan yang dimilikinya. Penggunaannya tidak akan pernah melampaui tingkat anti personil”

“lalu, Noble Phantasmnya Rider...”

“...mungkin ditingkat anti militer” timpal Tohsaka. “tidak masalah jika lawannya adalah orang atau batu besar. Aku akan menyederhanakannya, Noble Phantasm anti personil seperti senjata dengan amunisi tak terbatas, sedangkan Noble Phantasm anti militer seperti rudal sekali tembak”

“tunggu, pistol tidak cocok untuk rudal – oh ya!” seru Shirou tiba-tiba “kita melawan Rider, hanya perlu mengalahkannya sebelum dia menggunakan Noble Phantasmnya”

Tohsaka bertepuk tangan. “bingo, semakin lama bertarung ,semakin sulit kita menang. Kalau begitu....” dia lalu bangkit dan berjalan menuju pintu. “maaf, tapi aku tidak akan berpartisipasi dalam mencari Shinji. Aku ada urusan yang harus aku urus. Kuharap hasil yang baik darimu”

***

Saber dan Shirou sekarang ada di depan rumah Shinji. Saber menjulurkan kedua tangannya ke depan dan berkonsentrasi.


“dia tidak kesini”

Shirou menatap rumah Shinji. “berdasarkan kepribadiannya, hal pertama yang akan dia pikirkan adalah balas dendam ke kita”

“jadi maksudmu Master Rider akan membuat medan gaya lain?”

“tidak perlu diragukan lagi. Besaran medan gaya besar, seharusnya kita tahu jika ada didekat kita. Yang kita harus cari bukan Shinji”

“tapi medan gayanya. Aku terkejut. Mengesankan, Shirou”

Shirou tampak tersinggung melihat wajah Saber yang terkejut. “hei, aku tidak selalu bertindak tanpa berpikir. Ayo, jika Shinji membuat medan gaya, maka akan berakhir di distrik Shinto, bukan disini”

“kau yakin Shirou?”

Shirou yang sudah berlari langsung berhenti.

“ini rumah Sakura, bukan? Kita jangan sampai membiarkannya tahu, kita disini?”

Shirou memandang ke jendela lantai dua, tempat kamar Sakura berada. “iya, jangan! Aku tidak mau Sakura terlibat dalam pertempuran”

***

Mereka berdua berkeliling kota dan memeriksa setiap gedung dan tempat yang ada, bahkan orang-orang yang lewat sampai memandang mereka penuh keheranan. Tapi pencarian mereka sampai sekarang belum membuahkan hasil.

Shirou tiba-tiba mengerang pelan dan bertumpu pada kedua lututnya. Saber langsung berlari menghampirinya dan menariknya ke suatu tempat.


Ternyata Saber menariknya ke sebuah bangku di taman. Meskipun Shirou menggerutu, Saber berhasil memaksanya untuk duduk.

Shirou berusaha berdiri, tapi pandangannya bergoyang sesaat. “apa yang...”

“kau sekarang sadar keadaan tubuhmu, Shirou. Kau masih belum pulih, kau terlalu memaksakan diri”


“maaf. Aku hanya perlu istirahat sebentar, jadi tunggu sebentar”

Saber akhirnya menyerah dan ikut duduk disamping Shirou. “jika kau hanya ingin beristirahat, maka akan kutemani. Istirahat adalah bagian dari pertempuran”

Mereka berdua duduk dalam keheningan, sebelum tiba-tiba Saber bergeser ke samping hingga pundaknya menyentuh pundak Shirou. Wajah Shirou langsung memerah.

“Shirou, mukamu lebih pucat dari yang tadi” komentar Saber sambil mengamati wajah Masternya lekat-lekat.


Dengan panik Shirou langsung bergeser menjauh. “aku tidak terkejut atau apapun disini!”

“terkejut?”

“e-ah, tidak”

“akan lebih baik jika kau berbaring, tapi tempat untuk berbaring disini”

Saber menoleh kearah lain. Tak jauh dari mereka, ada sepasang kekasih duduk di bangku lain. Sang lelaki tidur2an di atas pangkuan wanitanya. Saber langsung menoleh kepada Shirou yang wajahnya mendadak pucat lagi.


Saber menepuk pangkuannya. “Shirou, jika kau mau, silahkan berbaring disini”

“A-aku tak apa!! Tenang saja, aku seperti ini saja” Shirou langsung berbalik memunggungi Saber dan menjadikan salah satu lengannya sendiri sebagai bantal. Dia tidur sambil duduk.

***

Shirou kembali bermimpi tentang masa kecilnya, waktu dia pertama kali bertemu ayah angkatnya.

Shirou menarik napas dan terbangun kaget. “aku....tertidur?” tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya.

“ya, sekitar satu jam” Saber masih duduk disampingnya, menatap lurus kedepan.

Shirou protes kenapa dia tidak membangunkannya saja.

“istirahat sangat diperlukan”

Shirou menghela napas dan bangkit berdiri. “aku tahu kondisi tubuhku penting. Tapi jika kita ingin beristirahat, ada tempat yang lebih baik”

“Shirou, apa tempat ini memiliki kenangan untukmu?”

Shirou menoleh kepada Saber. “oh ya. Sepertinya aku belum menceritakan ini kepadamu. Dulu aku tinggal disini. Terjadi kebakaran besar, orang tuaku...dan rumahku habis dilalap api. Saat itu ayah menyelamatkanku dan aku menjadi anak angkatnya. Kudengar tempat ini adalah tempat pertarungan terakhir. Korban dari tempat ini sekarang menjadi Master...sungguh ironi”

“Shirou...apa itu alasanmu ingin mencegah jatuh korban lagi. Karena kau korban dari perang Holy Grail, kau tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama sepertimu”

“kurasa hal itu sederhana saja. Sepuluh tahun lalu, ketika ayah menyelamatkanku dari tempat itu...aku sangat senang. Tapi, aku merasa khawatir karena hanya aku yang diselamatkan. Meskipun banyak orang yang ingin diselamatkan. Tapi hanya aku yang ditolong. Jadi...jika aku ingin membalas mereka yang sudah meninggal, setidaknya, aku harus mencegah hal itu terjadi lagi. Jika hal itu terjadi lagi, maka aku sangat tidak mampu membalas mereka yang telah meninggal”

“kau tidak berniat untuk menyelamatkan diri kan? Kau memprioritaskan orang lain. Itu juga sangat terhormat, tapi suatu hari nanti, kau akan menyesal. Shirou, kau harus lebih berhati-hati!”

Shirou hanya bengong menatap Saber.

“ayo, tetap disini akan membebanimu”

***

Mereka sedang di sekitar bangunan utama ketika tiba-tiba mereka merasakan ‘sesuatu’.

“Shirou!”

Shirou mengangguk pada Saber. “ah, apa itu dekat?”

“tidak, jaraknya masih agak jauh. Selain itu, kita sedang diawasi. Mereka jelas menantang kita. Aku akan melacak mananya. Hati-hatilah, Master”

Mereka berjalan di sebuah gang gelap dengan hati-hati. Shirou tiba-tiba berhenti.

“Saber, hati-hati! Ada yang aneh..”

“ya...selain itu...”

Saber mendongak dan langsung melompat, menepis sesuatu yang mengarah kepada Shirou.

Beberapa meter diatas mereka, Rider menempel terbalik pada sebuah bangunan tinggi, seperti seekor cecak.


Setelah meminta Shirou untuk menunggu disana, Saber langsung melompat tinggi, berganti pakaian dengan armornya di tengah-tengah udara. Shirou yang tak bisa diam tentu saja langsung menyusul naik.

Saber agak kewalahan melawan Rider, karena tidak seperti Rider yang bisa berdiri miring dengan santainya, ia harus melompat dan berpegangan pada apapun yang bisa digapainya. Mereka terus naik sampai ke atap.


Sementara itu Shirou tentu saja naik dengan cara yang sangat manusiawi : pakai lift. Sayangnya sebelum sampai ke tempat yang dituju, liftnya mendadak berhenti. Sambil menggerutu, Shirou berlari keluar lift dan mencari tangga keatas. Tanpa dia sadari, Ilya dan sesosok makhluk tinggi besar berotot dengan mata merah berkilat mengawasinya dari kegelapan.



***

Saber menutup matanya, sebab mendadak ada sinar putih menyilaukan di depannya. Samar-samar dia bisa melihat sebuah sayap besar putih bersih mengepak anggun, dan juga ringkikan seekor kuda yang sama putihnya dengan sayap tadi.

Saber membelalakkan matanya. Tepat diatasnya, Rider sedang menunggangi seekor pegasus putih bercahaya.


Rider tertawa kecil. Dia membungkuk sedikit dan pegasusnya maju menukik kearah Saber. Saber dengan cepat segera menebas pedang tak terlihatnya, pusaran angin terbentuk disekitarnya. Tapi Rider dan tunggangannya mampu menghindar dengan mudah.

Saber menggertakkan giginya. “kemampuan yang setara dengan sihir...itu adalah makhluk khayal legendaris?!”

Pegasus itu melesat dengan anggun keatas, dan kembali menukik kearah Saber lagi. Sementara itu Shirou tampak ngos-ngosan sambil berlari menaiki tangga.

Saber terpental kebelakang. Dia kembali berdiri beberapa detik kemudian, menatap kesal pada Rider yang terbang diatasnya.

“kau terkejut...kau jauh lebih kuat dari kelihatannya” komentar Rider santai.

“untuk membawa keluar makhluk mitologis...dosamu sangat besar, Rider?”

“aku tidak lebih dari musuh manusia. Sehingga, hal yang bisa kulakukan hanya mengendalikan mahluk malang yang telah diusir!”

“oh, begitu...aku tahu kau adalah tipe unvirtuous. Bahkan, kau tidak memiliki jiwa heroik”

“kutuklah dirimu sebanyak yang kau bisa. kau bahkan tidak bisa menyentuh makhluk ini”

Saber berhasil menghindari serangan Rider selanjutnya. Saber berencana untuk terus bertahan hingga Rider kelelahan sendiri. Tetapi tiba-tiba pintu menuju atap terbuka, Shirou muncul disana, terengah-engah. Hancur sudah rencana Saber.


“Shirou, kenapa?” teriak Saber. Tiba-tiba terdengar suara tawa melengking dari suatu tempat.

“Shinji!” geram Shirou.

“apa kau lihat, Emiya? Inilah perbedaan antara kau dan aku!”

“Dimana kau, Shinji?!”

“ini akan menjadi akhir untukmu dan servantmu. Jangan khawatir, kita bukan orang asing. Aku akan membunuh kalian tanpa rasa sakit. Lakukan, Rider. Mulailah dari wanita itu. Jangan ragu melakukannya?”

Pegasus Rider memekik nyaring. Shirou, tanpa pikir panjang langsung lari menghampiri Saber, yang tentu saja tampak tidak senang sama sekali.

Saber menggertakkan giginya dan kembali memandang Rider yang sedang menukik kearahnya. Saber mengangkat pedangnya, dan memegangnya erat-erat di depan tubuhnya. Pedangnya bercahaya dan angin kencang berhembus ke segala arah.

Shirou berhenti berlari, tak mampu melewati angin kencang itu.

Rider melayang-layang diatas, tersenyum. “ini akan berakhir menyenangkan, Saber” Dia merunduk dan mengelus-elus leher pegasusnya. “karena Noble Phantasmku terlalu kuat, banyak orang akan melihat jika aku menggunakannya”

Tangan Rider bercahaya, sebuah tali kekang emas mendadak muncul di tangannya. “tapi, aku tidak perlu takut karena disini tidak akan terlihat”

“Jadi itu Noble Phantasmmu, Rider?”

“ya...kuda ini terlalu lembut dan tidak cocok untuk pertempuran. Jika aku tidak ‘menggunakannya’, ia tidak akan berminat”


Rider menghentakkan tali kekang emasnya. Pegasusnya meringkik nyaring, warna matanya berubah menjadi merah sekarang. “lenyaplah, Saber!”


Pegasus menukik kearah Saber lalu terbang tinggi lagi. Saber menutup kedua matanya, pedangnya masih bercahaya dan angin kencang masih berhembus. “badai...”

Pusaran angin besar terbentuk sampai ke langit. Pegasus yang terbang tinggi berputar dan menukik kembali ke arah Saber dengan kecepatan tinggi.

Saber membuka matanya kembali. “Rider!”

Pegasus masih menukik kebawah, jaraknya semakin dekat. “Bellerophon!” raung Rider.

Saber menggerakkan pedangnya ke samping. “kau bilang tak seorang pun akan melihat jika aku menggunakannya disini.  Aku mengerti! Disini aku tidak perlu mengkhawatirkan bumi akan terbakar!”


Sebuah pedang emas berkilau muncul di tangan Saber. Saber mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Ex....calibur!!” ketika dia menebasnya, sebuah bola api seukuran komet raksasa melayang naik, langsung menghantam Rider dan pegasusnya. Rider sama sekali tidak bisa menghindar, dia menengadah, penutup matanya hancur berkeping-keping. Setelah ledakan menghilang, Rider dan Pegasusnya lenyap tak berbekas.



Tohsaka bahkan bisa melihat ledakan itu dari tempatnya berada. 


Dia sedang berdri di luar pagar rumah keluarga Shinji. Matanya menatap ke jendela di lantai dua, wajahnya tampak sangat sedih. Sementara itu, Sakura berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup. Matanya menatap keluar jendela, tampak kosong. Bibirnya bergerak menggumamkan sesuatu.



Shirou masih tak bergerak dari tempatnya berdiri. Dia memandangi pedang keemasan Saber yang berkilau terkena cahaya bulan.


Perhatian Shirou baru teralih ketika dia mendengar Shinji menjerit. Rupanya selama ini dia bersembunyi tak jauh. Buku sihirnya terbakar sendiri.


Dia segera melarikan diri ketika Shirou melihatnya. Shirou yang bermaksud mengejar, berhenti mendadak ketika mendengar suara terjatuh dibelakangnya.

Saber jatuh tertelungkup dilantai, tidak bergerak. Armor dan pedangnya bercahaya, dan terurai menghilang. Wajahnya tampak pucat keringatan, dan napasnya pendek dan cepat.




Shirou segera berlari kesisinya dan membalikkan badannya. Tidak perduli berapa kali Shirou memanggilnya, Saber tetap tidak sadarkan diri.